Motif Baru Kain Sasirangan

Aritikel oleh · Tulis Komentar Anda
Kategori: Motif 

Kain sasirangan sebagai kain tradisional Banjar, harus mengikuti kemajuan sehingga bisa dilirik oleh semua pihak, baik lokal, nasional maupun internasional. Oleh karena itu perlu adanya inovasi baru guna menghilangkan kesan yang datar dan  monoton dengan tujuan menyingkirkan kemungkinan kebosanan pada konsumen.

Apabila kain sasirangan dirancang dan diolah sedemikian rupa diharapkan berpotensi ekspor, antara lain menjadi fashion pada berbagai jenis pakaian, sehingga diperlukan inovasi baru. Salah satu inovasi baru untuk kain sasirangan adalah motif, dengan tujuan dapat memberi komposisi dan corak yang baru dalam desain.  Tetapi harus tetap berada dalam ruang lingkup yang menunjukan inguh (ciri khas) Banjar yakni tetap menunjukan nuansa Banjar. Tetap didasarkan pada faktor sosial dan budaya masyarakat Banjar. Selengkapnya

Motif Tradisional Kain Sasirangan

Aritikel oleh · Tulis Komentar Anda
Kategori: Motif, Sasirangan 

Suatu ciri khas dari kain sasirangan ini adalah rangkaian motif yang pada umumnya tersusun komposisinya secara vertikal, Jarang sekali terdapat susunan motif dengan komposis horizontal. Komposis motif secara vertikal inilah yang jelas membedakan dengan kain batik dari Jawa. Warna dasar kain yang mula-mula berwarna putih, setelah menjadi kain sasirangan berubah menjadi berwarna habang(merah) , coklat, biru, hijau atau hirang (hitam). Gambar motif yang timbul menjadi putih atau agak putih, hal ini dipengaruhi oleh warna yang menjadi dasarnya. Selengkapnya

Proses pembuatan kain sasirangan

Proses pembuatan kain sasirangan saat ini bersifat terbuka, artinya siapa saja dapat melakukan pembuatan kain khas Banjar tersebut, asal memiliki keterampila. Diperlukan adanya kesungguhan, ketelitian dan kecermatan, sehingga menghasilkan selembar kain sasirangan yang baik, sempurna dan bermutu. Secara kronologis proses pembuatan kain sasirangan adalah sebagai berikut :
1. Melukis atau menggambar
Mula-mula pada kain puti dilukis suatu motif yang diinginkan. Kain yang akan dilukis tersebut telah dipotong menurut ukurang yang diinginkan, misalnya 2 meter atau 3 meter. Kain putih ini bisa dari bahan katun, santung, balacu,kaci, king, primasimam satin atau sutera sesuai yang diinginkan. Melukis cukup dengan mempergunakan pensil biasa asalkan hasil garis-garis lukisan tersebut tampak dengan jelas. Pekerjaan melukis atau menggambar ini dapat dibedakan dalam dua cara, yaitu : Selengkapnya

Karamunting, adakah yang masih mengingatnya ?

Aritikel oleh · 1 Komentar
Kategori: Flora, Sasirangan 

Walau nampak kurang menarik, Karamunting disebut oleh orang banjar atau bahasa latinnya Rhodomyrtus tomentosa atau Ochthocharis bornensis Bl, ternyata mempunyai beberapa khasiat. Dibeberapa daerah dikenal dengan nama yang berbeda, di Pekanbaru disebut dengan Kalamunting, di Sumatera Utara dikenal dengan nama Haramonting dan di Jawa Barat dikenal dengan nama Harendong Sabrang.

Karamunting tumbuh seperti semak-semak. Menjelang matang, warna buah yang semula berwarna hijau menjadi merah kecokelatan sampai hitam dan bisa dikosumsi. Selengkapnya

Pewarnaan Kain Sasirangan

Pada waktu kain sasirangan masih bernama kain pamintan, sesuai dengan kondisi zamannya, zat warna diambil dari alam sekitar. Teknologinya sederhana, didasarkan atas  pengalaman dan tradisi yang bersifat turun-temurun

Alam lingkungan hidup sekitar rumah tangga memberikan kemudahan bagi pengolah kain sasirangan untuk mengolah warna dalam berbagai corak, namun tentu masih sangat terbatas. Pada umumnya warna-warna yang diperoleh dari alam adalah warna-warna pokok saja seperti : Selengkapnya

Peralatan Pembuatan Sasirangan

Proses pembuatan kain sasirangan memerlukan peralatan yang sederhana yakni :

  1. Meja tulis yang dipergunakan untuk tempat melukis atau menggambar dalam ukuran minimal 100 x 60 cm. Dapat dipakai meja papan biasa berkaki  tinggi (untuk pelukis yang duduk di kursi) atau meja berkaki pendek (untuk pelukis yang duduk bersila di lantai)
  2. Gunting yang dipergunakan untuk menggunting atau memotong kain yang akan diolah menjadi kain sasirangan Selengkapnya

Pembuatan kain sasirangan di waktu lampau

Pada waktu dulu tidak semua orang bisa menjadi pengrajin kain pamintan (Sasirangan), karena umumnya sebagai keterampilan yang bersifat keturunan, sehingga keterampilan tersebut tidak mudah ditularkan kepada sembarang orang lain

Persyaratan lainnya adalah pada adanya tuntutan tradisi yang mengharuskan diadakannya upacara selamatan sebelum memulai pembuatan kain pamitan tersebut. Upada selamatan ini adalah dengan mengadakan sajian berupa kue (wadai) khas Banjar seperti nasi lamak berbentuk gunungan yang dipuncaknya ada telur masak, hinti gula habang, kukulih dengan air gula habang, ditambahi pisang mahuli, ditaburi dupa yang berbau harum. Setelah dibacakan do’a  selamat, sajian wadai-wadai tersebut dimakan bersama. Selesai upacara tersebut, baru dimulai merancang pengolahan kain pamintan Selengkapnya

Mengenal Kain Sasirangan, kain khas Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan

Pada mulanya dikenal adanya Kain Pamintan. Istilah Pamintan ini adalah singkatan dari parmintaan (permintaan), maksudnya adala selembar kain putih yang diberi warna tertentu dengan motif tertantu pula atas permintaan seseorang yang berobat kepada seorang pengrajin kain paminta. Dengan menggunakan kain pamintan tersebut maka diharapkan penyakitnya akan menjadi sembuh.

Kain pamintan tersebut berfungsi sebagai sarana pengobatan atas petunjuk seroang tabib sebelumnya.  Berbagai macam penyakit dari seorang atau keluarganya yang sakit, kapingitan bahkan sampai kepada penyakit ganggun jiwa serta sakit yang disebabkan oleh gangguan makhluk halus atau gangguan roh jahat

Penyakit yang diderita tersebut tidak kunjung sembuh, dan bahkan telah menjadi kronis. Pengobatan alternatif yang bersifat non medis ini disebut batatamba dengan mempergunakan kain pamintan, yang dipakaikan secara berkala Selengkapnya